Merubah Spirit Beragama Generasi Milineal (Renungan Untuk Kita Semua) - Harian Kalbar

Merubah Spirit Beragama Generasi Milineal (Renungan Untuk Kita Semua)

 

Oleh : Sada’I S.Pd.I

Pemimpin masa depan”.

Bung Karno pernah berkata,”Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”

 

Di pidato lainya bung Karno pernah juga berkata“Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan dengan mereka aku akan mengguncang dunia.”

 

Ungkapan-ungkapan di atas pantas kita jadikan bahan renungan. Menilik fenomena yang terjadi saat ini, generasi milenial terlelap, terkungkung dan terhanyut arus deras telikungan teknologi.

 

Kemajuan teknologi dan internet yang merangsak hampir di semua tempat sampai pelosok-pelosok, arus informasi berseliweran tak terbendung dan serba cepat, media sosial sangat dominan menjadi menu saji tiap saat, tanpa android hidup serasa belum lengkap dan sebagainya, mayoritas anak muda (tak terkecuali di tempat ini) tidak mampu memanfaatkannya secara efektif untuk hal yang lebih positif.

Baca  Kim Jong Un Meninggal, Akankah Skenario Terburuk Terjadi

 

Akibatnya, nge “Game”, berselancar di FB, WA dan media sosial lainnya dengan konten-konten yang kurang bermanfaat menjadi tabiat. Kesehariannya, dari menit ke menit, dari jam ke jam berlalu seperti itu. Naif memang, miris dan ironis.

 

Maka, upaya untuk revitalisasi peran dan fungsi kaum muda mendesak untuk dilakukan, secepatnya.

 

Apa yang perlu dilakukan dan dari mana memulainya?

 

Pertama dan utama tentu berpikir tentang apa sebenarnya yang hendak dibangun oleh Nabi Muhammad sebagai misi kerasulannya. Berkaca pada al Qur’an, ayat pertama yang turun adalah perintah membaca, iqra’.

 

Membaca berarti ingin membentuk umat yang cerdas. Karena hanya dengan membaca umat ini akan bisa mendesain peradaban yang maju. Bukankah Allah memberikan penghargaan dan derajat yang sangat tinggi terhadap orang berilmu? Dalam (QS 58:11) misalnya, serta beberapa hadis dan ungkapan para ulama yang memberikan apresiasi yang tinggi pula.

Baca  Ragu Soal Bentuk Payudaranya, Vania Langsung Bilang Begini ke Om Deddy

 

Kalau hal ini tidak segera dilakukan, khawatir kita abai akan firman Allah,”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya.

 

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. 4:9)

 

Diktum ini diperkuat dengan ucapan Imam Syafi’i, “Tolak ukur generasi milenial itu dapat dilihat dari ilmu dan ketaqwaannya. Jika dua hal ini tidak melekat pada kepribadiannya maka ia tidak layak di sebut pemuda. Karena para pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Baca  Guardiola Sebut Arteta Sudah Hebat di Arsenal

 

Mohon maaf, tulisan ini hanya mencoba mengeksplorasi gagasan untuk mengembalikan efektifitas generasi milenial dalam mengisi kehidupan sehari-hari.

 

Sebagaimana yang misalnya terus dihembuskan oleh pemikir dan ulama semacam: Dr. Ratib an-Nabulsi, Dr. Imaduddin Khalil, Dr. Taha Abdurrahman, Dr. Taha Jabir Ulwan, Hasyim Salih, Khalis Jalabi, Dr. Ali Al Wardi dan lain-lain.

 

Sehingga ada pintu yang memadai untuk generasi muda untuk mengulang sumbangan Islam membentuk masyarakat madani seperti dulu pada awal-awal kehadirannya. Karena umat Islam generasi akhir hanya akan menjadi baik dengan apa yang membuat generasi awalnya baik.

 

Tinggalkan Balasan