Perempuan dalam Sarung (Refleksi Keterbelakangan Cara Berfikir Kaum Perempuan Di Era Millenial) - Harian Kalbar

Perempuan dalam Sarung (Refleksi Keterbelakangan Cara Berfikir Kaum Perempuan Di Era Millenial)

Oleh : Syarifuddin*

Perempuan itu tempatnya yaa di Kasur, dapur, sumur. Dah tak lebih dari itu, selebihnya pekerjaan laki-laki. Oo

psssss…… Apakah kalian pernah mendengarnya…? Atau kalian termasuk yang mengamalkannya atau kalian termasuk yang pernah mengatakan terhadap famili kalian or sahabat kalian? Wah kalau itu benar, kayaknya anda perlu di rukyah deh.!
Tak jarang kita mendengar kalimat yang pernah viral buat kaum wanita, Kasur, dapur, sumur, kata tersebut seolah-olah merendahkan kaum wanita, dan membunuh pergerakan wanita. Seakan-akan kaum wanita hanya bisa 3 pekara saja, dan yang lain tidak bisa.

Sungguh miris orang-orang yang terinternalisasi kata tersebut dalam dirinya. Apalagi di Era Millenial ini, laki-laki dan wanita tidak bisa di banding-bandingkan. karena yang bisa dilakukan laki-laki hari ini, bisa juga dilakukan oleh kaum wanita, bahkan bisa melebihi dari kemampuan kaum laki-laki. Dan tidak menutupi kemungkinan, di era ini, laki-laki tidak bisa apa-apa, kalah dari perempuan karena sibuk main mobile legends. That’s right? Atau perempuannya juga tidak bisa apa-apa, termasuk tidak bisa masak, nyuci dsb karena sibuk dengan Tiktoknya. Apakah itu benar?

Baca  Tim Gabungan Masih Belum Temukan Warga yang Hilang di Sungai Kapuas

Di era ini, sudah jadul kata-kata tentang perempuan itu tidak bisa apa-apa, karena sudah banyak feminisme-feminisme yang memperjuangkan hak-hak perempuan demi kesetaraan. Pada tanggal 21 April kita tahu itu adalah hari emansipasi wanita, salah satu pahlawan nasional wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita, R.A. Kartini. Megawati soekarno putri termasuk salah satu perempuan yang gemilang, karena pernah menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia. Mari Elka Pengestu, seorang ekonomi kelas dunia, Susi Susanti yang mengharumkan nama Indonesia dalam bidang olah raga bulu tangkis, dan sekarang pimpinan DPR RI dipimpin oleh seorang perempuan yakni Puan maharani.
Lalu apakah kalian (kaum perempuan) masih terhipnotis dengan kata Kasur, sumur dapur?

Baca  Yang Mau Daftar PRAKERJA, Hari ini Terakhir Gelombang 7, Buruan.!

Di Era Revolusi Industri 4.0 ini yang memudahkan semua aktifitas manusia, seharusnya perempuan tidak kalah saing dalam leni apapun, baik itu dalam bidang usaha, seni, Pendidikan, kepemimpinan dsb. Sudah tidak bisa ditutupi lagi, sudah banyak contoh perempuan yang menjadi pemimpin, bahkan dalam bidang Pendidikan perempuan sudah banyak yang kuliah diluar negeri, Malaysia, Mesir, London, dsb. Itu semua dilakukan agar kualitas diri mereka lebih baik dan kelak mampu memberikan generasi yang berkualitas.

Namun tak dipungkiri juga, banyak wanita yang melepas keperawanannya (menikah muda) karena diiming-iming dari kekasih atau familinya yang berfikir bahwa nikah muda adalah jalan terbaik untuk mereka agar cepat memiliki momongan dan menjadi ibu yang baik. What.! Ibu yang baik di umur yang masih belia, di Era Millenial ini. are you sure? How?

Baca  Jelang Pelantikan, PCNU Jakpus Sowan PBNU

Menjadi ibu yang baik dan mendidik anak-anaknya adalah suatu kewajiban kedua orang tua, terutama seorang ibu. Karena anak 24 jam lebih dekat dengan ibunya daripada seorang ayah. Seperti yang biasa kita dengar “ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya” Ahmad Sauqi juga berkomentar “ibu adalah sekolah, jika engkau menyiapkan generasi ibu dengan baik, berarti engkau menyiapkan generasi yang berkarakter mulia.

Untuk menjadi generasi ibu yang baik, maka kaum perempuan harus menyiapkan dirinya matang-matang, dengan menjadikan dirinya seorang pembelajaran.

Maka dari itu, Pendidikanlah salah satu untuk mengubah cara berfikir kaum wanita untuk maju. Karena anak yang cerdas dan berkualitas dihasilkan oleh didikan seorang ibu yang terus menerus mau belajar, dan mengembangkan kualitas dirinya.

Sehingga kelak akan benar-benar melahirkan generasi-generasi berkualitas, yang Rabbani dan Nasionalis, dengan didikan ibunya.

 

*Syarifuddin merupakan Pelajar dan Aktifis di IAIN Pontinakan.

Tinggalkan Balasan