Cara Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Anak - Harian Kalbar

Cara Mengatasi Kecanduan Gadget Pada Anak

Oleh : Nia Putri Listiyani

 

Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi. “Tok..tok.. Assalamu’alaikum bunda, ayu pulang.” Terdengar suara ayu yang baru pulang sekolah. “Wa’alaikum salaam” jawab sang bunda lekas membukakan pintu menyambut anak tercintanya pulang. “bagaimana sekolahnya hari ini?” Tanya bunda kepada ayu, “lancar bunda,” jawab ayu sambil bergegas menuju kamarnya untuk segera mengambil gadget karena sudah tidak sabar untuk memainkannya setelah selesai menuntut ilmu. “ayu, makan dulu nak” suruh bunda. “nanti saja bun,” jawab ayu yang sedang asyik bermain gadget tak mau diganggu. Bahkan bisa sampai seharian penuh ayu bermain gadget. Kadang ibunya sampai lelah membujuknya, hingga ayupun terlambat makan dan melupakan tugas rumahnya  karena terlalu asyik bermain gadget.

 

Sering sekali kita lihat ya bunda, anak kita yang sudah terlanjur mengenal gadget, akan cenderung lebih mengutamakan gadgetnya ketimbang panggilan bunda atau ayahnya, bahkan mengabaikan tugas sekolah yang seharusnya dikerjakan, atau bahkan orangtua yang malah memberikan gadget untuk memfasilitasi anak agar tidak ketinggalan informasi atau kudet di era yang serba modern dan ditambah dengan tekhnologi canggih  seperti sekarang ini. Hal inilah yang menyebabkan awal dari pertumbuhan anak yang tidak semestinya. Usia anak-anak sekolah harusnya masih perlu bimbingan dan perhatian, agar orangtua mampu mengawasi apa saja sih yang dilakukan anak ketika pada masa pertumbuhannya.

Baca  Minyak Telon Nyonya Meneer PT BEM, di Pertanyakan Konsumen

 

Dunia anak yang seharusnya diisi dengan mainan yang membimbingnya dalam pengetahuan untuk lebih mengenal dan merasakan lingkungan sekitarnya sebelum benar-benar mengenal jati dirinya dan menghabiskan waktunya dengan perhatian dari orangtua, kini di alihkan oleh gadget yang pasti akan banyak menyita kepekaannya terhadap sekitar.

 

Bahkan kini dunia anak berada dalam satu genggaman, hanya dengan mengandalkan benda kotak yang biasa disebut gadget. Bisa dibuktikan dengan banyaknya penggunaa gadget ketika di jalan, di angkot, di kantor bahkan di kamar mandi saja sempat untuk membawanya, baik dari kalangan  remaja, dewasa, orang yang sudah lanjut usia bahkan sekarang merambah pada anak usia dinipun sudah mampu mengaplikasikan gadget.

 

Jika kejadian seperti ini berkelanjutan, maka akan berdampak buruk bagi masyarakat dan khususnya kesehatan fisik dan mental anak. ketika anak sudah di ajarkan untuk mengeksplorasi dunia maya dia cenderung akan lebih pendiam dan mengasingkan diri dari dunia nyata. Dia akan lebih aktif untuk membagi cerita, menonton film kesukaannya, bermain game yang membuatnya betah berjam-jam menatap layar handphone hanya dengan mengandalkan genggaman tangannya.

 

Memang pada dasarnya tekhnologi maju sangat diperlukan, apalagi di zaman sekarang yang serba canggih, agar tidak ketinggalan dengan negara maju lainnya. Namun kita juga harus pandai mengelolanya dengan baik, memanfaatkan kecanggihannya untuk pengembangan pengetahuan dunia luar yang memang sulit jika dijangkau secara fisik, jangan sampai tekhnologi itu salah dalam penggunaannya yang bisa mengakibatkan kebodohan dalam mengaplikasikannya. Bisa diambil contoh, sekarang ini sudah banyak kasus pembulian pada anak yang salah satu faktornya adalah disebabkan oleh gadget itu sendiri. Sebenarnya tidak secara keseluruhan salah tekhnologinya, namun kesalahan penggunanya yang tidak bisa mengontrol dan menyaring hal-hal yang dampaknya buruk bagi orang lain, hingga timbul masalah seperti itu.

Baca  Perempuan dalam Sarung (Refleksi Keterbelakangan Cara Berfikir Kaum Perempuan Di Era Millenial)

 

Lalu bagaimana caranya agar anak tidak terperangkap dalam jajahan gadget dan kesalahan dalam pengunaannya?. Yang perlu dilakukan orangtua yaitu:

 

pertama, jalinlah komunikasi yang baik dengan anak. menjadi orangtua kita harus bisa membuat anak lebih dekat dengan kita dari pada orang lain. Karena kita sebagai orangtuanya berhak untuk mengetahui, mengelola perhatian dan membimbing kegiatannya dengan baik. Salah satunya jangan pernah bosan mendengarkan cerita anak tentang kegiatan yang telah dilaluinya, responlah dengan baik bahasa anak. ia hanya butuh untuk didengarkan, karena sejatinya anak memang sangat suka bercerita. Sesekali tanyalah tentang bagaimana sekolahnya, apa saja yang sudah dilakukannya hari ini, bagaimana suasana lingkungannya dan berbagai hal lain yang mampu membuat anak nyaman untuk menyampaikan kegiatannya. Dari situlah secara tidak langsung komunikasinya akan terjalin dengan baik.

Baca  Membaca Ulang Ideologi Fasisme - Tangan Menanjak

 

Kedua, menyempatkan waktu untuk anak. orangtua yang cenderung sibuk bekerja akan tidak banyak mempunyai waktu luang dengan anak bahkan hanya dengan untuk mendengarkan cerita dan keluh kesah sang anakpun tidak akan sempat, hal inilah yang menyebabkan perhatian orangtua kepada anak berkurang dan anak akan mencari dunia baru yang mampu membuatnya tidak merasa diabaikan lagi. Maka mulai sekarang ambil kembali perhatian anak, ajaklah anak duduk berdampingan, bermain dan menghabiskan waktu bersama orangtua.

 

Katiga, mengganti gadget dengan mainan yang mengasah otak dan mengedukasi lainnya. Menurut Faizathoifur pada artikelnya dalam kompasiana.com memaparkan contoh mainan anak yang mengedukasi yaitu permainan yang mengasah otak, seperti: catur, ular tangga, puzzle dll. Permainan membentuk fisik, seperti: sepak bola, bola kasti, loncat tali, berlarian dll. Permainan melatih sosialisasi anak, antara lain: bermain pasar-pasaran, boneka dll. Permainan ini akan mengalihkan anak pada kecanduan gadget dan lebih berkembang dengan melakukan hal positif.

 

Dari pernyataan diatas bisa kita lihat bagaimana dampak negatif yang akan terjadi pada anak jika dibiarkan kecanduan terhadap gadget,bahkan bisa jadi akan timbul hal-hal yang tidak diinginkan, serta pentingnya peran orangtua dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.

(Nia Putri Listiyani-Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Pontianak dan Pegiat Literasi di Rumah Literasi Iain Pontianak).

 

Tinggalkan Balasan