Membaca Ulang Ideologi Fasisme - Tangan Menanjak - Harian Kalbar

Membaca Ulang Ideologi Fasisme – Tangan Menanjak

Adolf Hitler Pemimpin Otoritas tertinggi NAZI saat disambut pengikutnya dengan gaya tangan menanjak

Oleh : Viky Arthiando Putra*

Setiap ideologi yang lahir tidak akan mati, ia akan terus bermetamorfosis seiring berkembangnya dialektika manusia, ideologi seperti roh atau spirit dalam tafsir sejarah Hegel, ia hanya terhenti oleh waktu dalam jangka yang sementara, ketika gejolak peristiwa yang mirip bangkit lagi, maka ideologi yang pernah kalah itu juga akan bangkit, sesuai realita yang dihadapi, Seperti Fasisme. Kapan fasisme lahir dan kapan fasisme mati atau berakhir, jawabannya ia terlahir bersamaan dengan manusia yang berpikir.

Sejarah Fasisme

Fasisme secara nama lahir ketika Perang Dunia I meletus, dicetuskan oleh Benito Mussolini, jurnalis yang mendirikan surat kabar yang berbasis di Milan, Il Popolo d’Italia. Awalnya seorang anggota partai sosialis kemudian keluar dan mendeklarasikan berdirinya Fasci di Combattimento yang kelak dikenal sebagai Partai Fasis. Partai Fasis dilahirkan sebagai bentuk kritik atas partai sosialis yang lamban dalam menangani kasus perang, bersifat konservatif, kolot dan tidak revolusioner, melihat ketertinggalan dan ancaman kekalahan politik dan ekonomi Italia pada saat berakhirnya PD I, dan juga kalah pamor dengan negara tetangganya seperti Perancis, Jerman, dan Inggris, Mussolini berambisi untuk mengembalikan kejayaan Italia sebagai negara pewaris Romawi dengan Ideologi Fasismenya.

Ada sloganyang di gaungkan oleh Mussolini untuk menarik simpati rakyat dan pemuda, slogan itu berbunyi “Kita adalah manusia-manusia yang mendorong negara ke kancah peperangan dan meraih kemenangan,” seru Mussolini, dan terbukti pada saat Mussolini menjadi perdana menteri Italia tahun 1922 dan selama beberapa tahun berikutnya mengubah posisi itu menjadi salah satu kekuatan diktator, ia menjadi sosok sentral di mata rakyat mengalahkan ketenaran Lenin dan Stalin.

Baca  Ciri-ciri Virus Corona H-1 hingga H-9
Benito Amilcare Andrea Mussolini yang dikenal Mussolini adalah seorang politisi asal Italia dan pemimpin Partai Fasis Nasional. Ia merupakan diktator Italia pada periode 1922-1943.

Gerakan ideologi politik Mussolini kemudian mengilhami pemimpin dunia lainnya seperti Adolf Hitler di Jerman, Francisco Franco di Spanyol, Tenno Heika di Jepang, dan Juan Peron di Amerika Latin/Argentina.

Puncakgerakan politik dan agresi militer Fasis berakhir pada Perang Dunia II, setelah kalah dari pasukan sekutu Amerika yang berideologi Kapitalisme (Liberalisme) dan Uni Soviet yang berideologi Komunisme, tahun 1945 puncak kedigdayaan Fasisme yang sebelumnya telah berhasil merebut tanah jajahan, harus berakhir, Mussolini digantung di kota Milan, Jerman Hitler dipukul mundur dari Stalingard sampai Berlin, dan Jepang di Pearl Harbor dan dipukul di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika. Fasisme berakhir secara politis, tetapi ideologinya tetap hidup bahkan diadopsi oleh negara yang menang perang.

Pesan Fasis lewat Ideologi

Mussolini memerintah secara totaliter dengan ciri: sangat nasionalis chauvinistik, rasialis, militeris, dan imperialis. Italia menjadi negara yang stabil, pemerintah mengontrol ketat setiap gerakan rakyat dan mobilisasi massa, juga kelihaian Mussolini bermain media.

Kepemimpinansentralistik kemudian menjadi ciri utama fasisme. Fasisme secara ideologi tidak mempunyai struktur pemikiran yang jelas, bisa dibilang ia mengambil berbagai pemikiran untuk menghegemoni kekuasaan, diantara pemikiran tersebut diantaranya filsafat sejarahnya Hegel, pemimpin filosofnya Plato, ubermens-nya Nietzche, survieval of the fittes-nya Darwin dan para pemikir Eropa lainnya tanpa memperhatikan keruntutan logikanya. Sehingga tafsir tentang fasis begitu absurd dan hanya dilambangkan dengan tangan besi si penguasa.

Baca  AS Kalah Terhadap Iran, Benarkah..?
Fasisme dikenal sebagai Idiologi Brutal sepanjang zaman.

Tetapi ciri-ciri fasis yang pernah diterapkan di beberapa negara setidaknya mempunyai beberapa kesamaan, yakni doktrin tentang ras unggul yang kemudian melahirkan rasisme, otoritas pemimpin dan sikap totalitarian dalam mengendalikan negara.

Membaca ulang Fasisme

Fasisme merupakan ideologi Ultranasionalis. Ultranasionalis merupakan sebuah nasionalisme ekstrim yang mempromosikan kepentingan satu negara atau masyarakat di atas segala hal. Atas doktrin dan kepentingan nasionalisme inilah kemudian melahirkan tindakan diskriminatif terhadap kaum minoritas atau ideologi yang dianggap mengancam eksistensi negara.

Fasisakan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan, termasuk merekrut kaum intelektual untuk membuat narasi publik tentang kebaikan negara dan melawan kritik dari rakyat, tak jarang media massa menjadi topeng untuk menutupi kesalahan dan memanipulasi kebenaran, taktik tersebut pernah berhasil di masa Mussolini dan di masa orde baru Indonesia. di Indonesia sendiri fasisme mempunyai sejarah bahkan salah satu partai yang berafiliasi dengan NAZI pernah berdiri, seperti Nederlandsch Indische Fascisten Organisatie (NIFO), Facisten Unie (FU), Nationaal-Socialitische Nederlandsche Arbeiderspartij (NSNAP) serta perwakilan resmi Nazi Jerman di Indonesia Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP). Namun, gerakan fasisme pribumi baru menampakan kehadirannya ketika Partai Fasis Indonesia (PFI) didirikan oleh orang Indonesia asli, Dr. Notonindito pada Juli 1933.

Baca  Data Sementara, Jumlah Kios Terbakar di Sintang

Gerakankaum minoritas yang muncul kepermukaan hari ini merupakan refleksi, bahwa negara gagal mengakomodir suara dari rakyat yang secara nominal masih kecil, kelompok tersebut seperti LGBT dan gerakan islam minoritas yang memperjuangkan ideologi khilafah islamiyah. Tindakan dan langkah pemerintah masih represif dan tidak mengedepankan komunikasi dialogis. Sikap negara ini lebih dekat dengan fasisme yang telah bermetamorfosis, sehingga bisa disebut neo-fasis.

Sebagaicontoh juga pendekatan kasus Papua, penyelesaian secara militer bukan solusi, tindakan tersebut hanya menimbulkan dendam berkepanjangan dan tidak akan lama masyarakat akan sadar dan memberontak untuk mendapat kemerdekaan. Pencegahan menggunakan sistem militer merupakan ciri totalitarian, yang saat ini diadopsi oleh negara untuk meligitimasi kuasa politik dan ekonomi.

Seperti yang telah penulis sampaikan di awal tulisan, bahwa sebuah ideologi tidak akan mati tapi ia akan menyesuaikan zaman dimana ideologi tersebut bisa digunakan kembali, tidak mengajak rakyat berpartisipasi dalam kebijakan negara dan mengabaikan kepentingan rakyat salah satu stimulus untuk membangkitkan gerakan rakyat, sedangkan kita tahu bahwa musuh utama fasisme ialah gerakan rakyat yang distreotipkan pada Anarkisme, seperti pertentangan Spanyol yang fasis dan catalan yang anarkis, begitulah siklus kuasa akan terjadi dan kebangkitan antar ideologi silih berganti muncul dan menguasai negara.

 

Penulis merupakan aktivis kepemudaan dan Pembicara di Forum- forum pemikiran di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan