Dugaan Persekongkolan PT BEM dan BPOM terkait Izin Edar Jamu Nyonya Meneer - Harian Kalbar

Dugaan Persekongkolan PT BEM dan BPOM terkait Izin Edar Jamu Nyonya Meneer

Jakarta, Harian Kalbar | Bagaikan bola salju yang terus bergulir, semakin lama semakin nampak ke permukaan. begitu dengan indikasi kecurangan yang terjadi antara klaim sepihak Jamu Nyonya Meneer.

Izin BPOM yang dikeluarkan kepada PT BEM diduga ada unsur kesengajaan. hal tersebut tidak lepas perselingkuhan terlarang terkait izin edar BPOM.

BPOM yang merupakan lembaga resmi pemerintah dan yang diberi kewanangan khusus tentu harus memiliki posisi yang jelas, independen dan tidak berpihak kepada siapapun, tidak terkecuali kepada masyarakat.

Logikanya lembaga sebesar BPOM punya mekanisme yang jelas serta sistem yang baik dalam mekanisme perizinan, sedangkan dalam proses pengeluaran izin edar atas produk minyak telon PT BEM yang mencatut logo Njonja Meneer (masih sengketa) itu merupakan blunder yang parah, dan sangat mencederai kepercayaan masyarakat pada BPOM. Hal ini berbahaya karena menyangkut hak dan keselamatan konsumen.

Klaim sepihak merek dagang nyonya meneer oleh PT Bhumi Empon Mustiko semakin runcing, sebelumnya beredar di beberapa media massa online tentang kisruh merek jamu legendaris nyonya meneer ini nampaknya belum menemui rimba titik terang.

PT BEM masih kekeeh dan mengabaikan sekian fakta dilapangan yang mengindikasikan ada permainan dan perselingkuhan dalam proses pelelangan asset yang sudah disetting sedemikian rupa serta terbitnya izin edar produk minyak telon nyonya meneer di pasaran.

Baca  Vanessa Angel Tersangka Kasus Narkotika Setelah Kasus Prostitusi

Parahnya lagi ditengah kekisruhan hukum yang belum pasti, telon nyonya meneer didonasikan ke salah satu ormas terbesar oleh PT BEM dengan dalih bantuan sosial. Hal ini tentu bisa ditebak, tidak lain hanyalah sebagai pencitraan untuk mendapatkan simpati masyarakat ditengah pandemi ini.

Dugaan perselingkuhan BPOM dan PT BEM semakin menunjukkan bahwa Lembaga negara ini tidak memiliki kredibilitas. Pasalnya masih banyak produk industri rumahan yang belum terbit izin edarnya dari BPOM sehingga menghambat perkembangan industri kecil, khususnya UMKM.

Belum lagi proses administrasi yang berbelit-belit dan birokratis yang menghabiskan banyak energi, waktu, dan materi, serta kerugian bagi pelaku usaha kecil. Sangat banyak produk makanan dan obat-obatan tradisional yang di produksi oleh pelaku usaha kecil yang pada akhirnya gulung tikar karena ulah BPOM.

Lain halnya jika industri raksasa yang dimotori asing, segala proses di atas akan segera selesai hanya dengan sekali kedipan mata. Dengan persoalan seperti ini BPOM harus mengakui atau mengklarifikasi tentang adanya permainan dalam proses pengeluaran Izin, atau BPOM akan dicap buruk oleh masyarakat karena terkesan melakukan kejahatan regulasi dan bisnis perizinan. Apalagi sudah jelas persoalan klaim logo dan merk nyonya meneer masih runyam, serta masih dalam proses hukum yang belum jelas keputusannya.

Baca  Suarez Pindah ke Atletico Gara-gara Messi

Belum lagi ada kejanggalan dalam proses lelang, Ade Liansyah yang tergabung dalam kurator kepailitan mengatakan penjualan aset hanya akal akalan, karena pada saat pelelangan sebenarnya ada pelelang lebih tinggi dibanding pemenamg lelang yang diklaim pihak PT Bhumi Empon Mustiko yaitu PT Aryasatya Bayanaka Nurswapada selain itu diakui pula oleh Ade Liansyah dalam perjalanan awal pelelangan PT Bayanaka tidaklah masuk, namun tiba tiba malah merekalah yang memenangkan lelang, belum selesai dengan persoalan sertifikat merek yang kadaluarsa, dll.

Kurator Wahyu Hidayat secara sepihak memenangkan PT Bayanaka. Ini menunjukkan bahwa, ada permainan dari kurator yang dimainkan Wahyu Hidayat tanpa mempertimbangkan kurator yang satu, Wahyu langsung menjual bawah tangan Nyonya Meneer, dan mengklaim bahwa ini telah sesuai mekanisme yang diatur dalam UU Kepailitan. Dari sini sudah sangat jelas setting yang diskenariokan secara massif, terstruktur, dan sistematis.

Baca  Kades dan Sekdes Viral Pelukan Tampa Busana - Warga Laporkan

Terakhir dan paling penting adalah, fakta bahwa Seno Budiono bukanlah keturunan Ny. Meneer. Sepak terjangnya dalam bisnis di industry otomotif juga menimbulkan banyak masalah.

Tetapi dia menunjukkan kedunguannya ke publik dengan menyatakan sebagai keturunan Ny.Meneer serta mewarisi resep jamu legendaris itu. Semuanya hanya bohong besar pada public, dia sama sekali tidak pernah terlibat dalam bisnis keluarga Ny.Meneer.

Seno juga tidak pernah menyampaikan ke public soal resep dan ramuan jamu, karena pada dasarnya dia sama sekali tidak tahu menahu soal jamu. Pernyataan seno melalui press releasenya, sangatlah tidak berdasar. Seno bicara soal penggunaan teknologi canggih dalam pengolahan produk telon. Artinya mengabaikan soal mutu, khasiat, dan aroma, karena hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi.

Seno Ingin menyulap industry jamu semacam industry otomotif, yang hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, mengabaikan sisi kemanusiaan dan kebudayaan.

Dari sini bias dilihat bagaimana Seno mengabaikan dan menggadaikan produk kebudayaan nusantara yang merupakan sebuah manifestasi dan kearifan local bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan