Sejarah Awal Mula Sholat Tarawih - Harian Kalbar

Sejarah Awal Mula Sholat Tarawih

Sabahat Harian Kalbar. Bulan Ramdhan 1441 H tahun ini sudah masuk pertengahan bulan. Ramadhan tahun ini suasananya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya karena faktor covid-19, dan pemirintah sudah mewanti-wanti untuk tidak melaksanakan ibadah dalam masjid untuk memutus rantai penyebaran covid-19.

Namun ummat muslim di penjuru dunia, khususnya di Indonesia tetap melaksanakan ibadah-ibadah yang dianjurkan seperti Sholat Sunnah Tarawih, Tadarus, dsb di rumah masing-masing.

Lalu apa historis atau sejarah awal pelaksanaan Sholat Tarawih ini. Sebab, ada hal-hal yang menarik untuk kita ketahui dari awal mula disunnahkannya sholat tarawih ini.

Sebenarnya sangat banyak hadits-hadist yang menjelaskan awal mula Sholat Tarawih ini, namun cukup dengan satu redaksi hadits yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari yang akan dipaparkan sebagai berikut;

“Sayyidatu Aisyah R.A. mengabarkannya bahwa Rasulullah SAW pada suatu malam keluar kamar di tengah malam untuk melaksanakan Sholat di Masjid, maka orang-orang kemudian ikut sholat mengikuti sholat Beliau.

Baca  Bersenggama, Mandi Wajib Setelah Subuh. Bagaimana Hukumnya.!?

Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut sehingga pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut sholat dengan beliau. Pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut.

Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah SAW keluar untuk sholat dan mereka ikut sholat bersama beliau. Kemudian pada malam yang ke empat, masjid sudah penuh dengan jamaah hinga akhirnya beliau keluar hanya untuk sholat shubuh.

Setelah beliau selesai sholat fajar, beliau menghadap pada orang banyak, kemudian membaca Syahadat lalu bersabda: Amma ba’du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut nanti menjadi diwajibkan atas kalian sehingga kalian menjadi keberatan karenanya. Kemudian setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, tradisi sholat (tarawih) secara berjamaah terus berlangsung seperti itu”. (HR. Bukhari).

Hal yang cukup menarik untuk di ketahui dan dapat diambil pelajaran dari hadits yang di paparkan diatas tersebut ialah tentang ke khawatiran Nabi Muhammad SAW, Jika sholat tarawih tersebut kemudian di wajibkan bagi ummatnya sehingga hal itu akan memberatkan bagi ummatnya.

Baca  Sedihnya Van Dijk, Virus Corona Rusak Pesta Juara Liverpool

Selain itu, ternyata pelaksanaan sholat tarawih berjamaah dilaksanakan pada masa Umar Ibnu Khottab, bukan pada zaman Rasulullah. Dan itu merupakan Ijtihad umar bin khottab untuk menyatukan ummat Islam, sebgaimana hadits ini;

“dan dari ibnu syihab dari urwah bin al-zubair, dari Abdurrahman bin abdul Qoriy bahwa dia berkata; “Aku keluar bersama umar bin khattab r.a. pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang sholat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang sholat sendiri dan ada seorang yang sholat di ikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang.

Maka Umar berkata: “aku pikir seandainya mereka semua sholat berjamaah dengan dipimpin dengan satu orang imam, itu lebih baik”. Kemudian umar memantapkan keinginannya itu, lalu mengumpulkan mereka dalam satu jamaah yang di pimpin oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian kau keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang sholat dalam satu jamaah dengan di pimpin oleh satu imam, lalu umar berkat: “sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada sholat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan sholat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melaksanakan sholat pada awal malam (RH. Bukhari).

Baca  Longsor Peniraman, 2 Terdampak, 13 Rumah Siaga Lonsor Susulan

Dapat ditarik kesimpulan dari kedua hadits tersebut, yakni :

Pertama, kalau bukan karena Islam sangat menjunjung kemudahan dalam beragama tentu bisa saja sholat tarawih tersebut kemudian hari diwajibkan, sebagaimana ke khawatiran Nabi Muhammad SAW.

Kedua, Umar bin Khattab mengakui bahwa sholat tarawih berjamaah merupakan hal yang bid’ah yang tidak pernah Rasulullah ajarkan, namun beliau mengujar bahwa itu adalah seabaik-baiknya bid’ah.

Tinggalkan Balasan