Peristiwa Mandor, Gugurnya Syarif Muhammad Al Kadrie - Harian Kalbar

Peristiwa Mandor, Gugurnya Syarif Muhammad Al Kadrie

Harian Kalbar | Sepanjang perjalanan sejarah, akan terus termaktub dalam tinta dan hikayat seorang sosok dibalik peristiwa tersebut.

Begitupun dengan peristiwa yang mengerikan di Kalimantan Barat, yakni Peristiwa Mandor. Peristiwa Mandor merupakan insiden yang sangat brutal pada saat itu, dikenal juga dengan istilah Insiden Pontianak.

Insiden ini terjadi pada saat Sultan Syarif Muhammad Al-Kadrie  sebagai Sultan Pontianak yang ke-6 yang menjadi  korban kejamnya penjajahan Jepang terhadap masyakarat pribumi.

Syarif Muhammad Al Kadrie dalam kepemimpinan mengalami dua periode penjajahan, yakni Belanda dan Jepang. Pada tahun 1912, Belanda memaksakan perjanjian kepada Syarif Muhammad Al Kadrie.

Sebagai seorang pemimpin Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad  dikenal sebagai seorang yang alim dan ketokohannya meliputi lintas sektoral. Baik sektor pemerintahan yang merupakan bagian dari dinasti Kerajaan Kadriah Pontianak. Syarif Muhammad Al Kadrie juga merupakan tokoh agama.

Baca  400 Penambang Emas Cagar Alam Mandor di Tangkap

Memasuki periode kedua penjajahan di tanah Borneo, saat Jepang mengambil alih penjajahan dari Belanda. Masyarakat mulai menginginkan kemerdekaan dan mengusir penjajah dari tanah Borneo.

Sekitar tahun 1942 M, Syarif Muhammad Al Kadrie mengumpulkan semua tokoh dari elemen masyarakat dan jajaran kesultanannya. Pertemuan itu membahas tentang keberadaan Jepang.

Dalam sudut pandang kepemimpinannya, bahwa penindasan, kelaparan, kemiskinan dan ke tidaksejahtraan merupakan bagian dari adanya penjajahan. Sebab itulah, mengusir Jepang baik Belanda dari tanah Borneo dan siasat untuk melakukan perlawanan sudah harus gaungkan.

Karena itulah, Sultan Syarif Muhammad Al Kadrie merupakan salah satu pahlawan yang mampu membangkitkan patriotisme masyakarat pribumi Kalbar. Hal ini juga seperti tokoh-tokoh di balik tirai kemerdekaan seperti Imam Bonjol dan Lainnya.

Baca  Sehari 793 Meninggal di Italia Akibat COVID-19

Siasat untuk melakukan perlawanan oleh Syarif Muhammad Al Kadrie rupanya didengar oleh Penjajah Jepang. Melihat pergerakan masyarakat yang mulai bergerilya melawan musuh (penjajah). Jepang mulai menaruh perhatian kepada Syarif Muhammad Al Kadrie, sehingga dengan demikian dapat menghentikan sengitnya perlawanan Masyarakat pribumi.

Perlawanan masyarakat pribumi terus terjadi di Tanah Khatulistiwa. Saat itu, Syarif Muhammad Al Kadrie sebagai raja kesultanan Pontianak, bersama gelombang masyarakat di Pontianak  dengan berbagai elemen, ras dan agama menghendaki tanah Borneo agar lepas dari Penjajahan.

Gelombang perlawanan dari masyarakat pada saat itu terus bangkit, sehingga Kraton Kadriah Pontianak menjadi suatu elemen khusus untuk membangkitkan semangat patriotisme.

Tahun 1944 M, Jepang mengepung Kraton Kesultanan Kadriah dengan sejumlah bala tentaranya. Pada saat itu, Jepang ingin melumpuhkan perlawanan masyarakat dengan cara menangkap Sultan Pontianak.

Baca  Polisi Cabuli ABG Akan Diperiksa Secara Interaktif

Pada saat itu, tanggal 24 Januari 1944, satu tahun sebelum Proklamasi kemerdekaan di dengungkan oleh Ir Soekarno. Jepang menangkap Syarif Muhammad Al Kadrie.

Satu hari setelah penangkapan itu, mulai terdengar secara luas. Tidak hanya Syarif Muhammad Al Kadrie yang menjadi tawanan Jepang. Kerabat dan Jajaran Kesultanan semuanya ditangkap oleh Jepang.

Rupanya penangkapan tersebut juga terjadinya perlawanan masyarakat pribumi dari berbagai macam ras, agama dan antar golongan. Yang turut serta mengikuti jejak Syarif Muhammad Al Kadrie. Pada saat itulah, Insiden Pontianak terjadi yakni Peristiwa Mandor. Sekitar 1000 lebih masyarakat Borneo gugur termasuk Syarif Muhammad Al Kadrie.

 

Tinggalkan Balasan