Sejarah Hari Ini, Peristiwa Mandor - Harian Kalbar

Sejarah Hari Ini, Peristiwa Mandor

Harian Kalbar | Peristiwa Mandor atau dikenal pula dengan istilah Insiden Pontianak pada masa penjajahan. Peristiwa ini terjadi di Kuala Mandor, daerah Kesultanan Pontianak. sekarang Kabupaten Landak, pada tahun 1943 M.

Pada tahun 2007, melalui musyawarah DPRD Kalimantan Barat menetapkan 28 Juni sebagai hari berkabung. Lahirnya peraturan Daerah (Perda) nomer 5 tahun 2007 tentang peristiwa Mandor pada 28 Juni sebagai hari berkabung daerah.

Sekitar tahun 1943-1944, di Kalimantan Barat terjadi sebuah perlawanan masyarakat pribumi untuk mengusir Jepang dari tanah Borneo.

Hingga pada waktu peristiwa Mandor, satu tahun sebelum proklamasi. Sejumlah tokoh penting dan pejuang pribumi gugur setelah terjadinya pembantaian secara kejam oleh Jepang.

Baca  CATAT.! Anggaran Pendidikan Kab Kubu Raya Rp 135 Miliar

Jepang menyusun rencana gonisida guna menghentikan semangat perjuangan masyakarat jala itu. Sebagaimana yang diberitakan oleh Media Harian Jepang kala itu yang bernama Borneo Shinbun, Koran yang terbit pada saat itu mengungkapkan bahwa strategi ini untuk membungkam kebijakan politik dalam perang yang dilakukan oleh Jepang.

Satu tahun sebelum proklamasi, Ganasnya pembantaian pasukan Jepang, korban pembantaian meliputi dari berbagai unsur etnis, agama dan golongan. Mereka merupakan kelompok masyarakat yang bangkit melakukan perlawanan kepada penjajah.

Sejumlah tokoh dan masyarakat yang menjadi korban dalam peristiwa Mandor meliputi dari berbagai etnis, ras, agama dan antar golongan, yakni diantaranya :

Syarif Muhammad Al Kadrie (Sultan Pontianak ke-6, 74 tahun).
Pangeran Adipati (Putra Sultan Pontianak, 31 tahun).
Pangeran Agun (26 tahun).
Dr. RoebiniE
JE Patiasina (51 tahun)
Muhammad IbrahimTsafioeddin (Sultan Sambas, 40 tahun)
Raden Abdoel Bahry Daroe Perdana (Penembahan Sintang)
Tjong Tjok Men
Panaskan Harahap
Goesti Saoenan (Penambahan Ketapang 44 tahun)
Ahmad Maidin
dr.R.M Ahmad Diponegoro
dr.Ismail
Amaliah Roebini (istri dr Roebini)
Noerlela Panangian Harahap (istri Panangian)
Tengkoe Idris (Panembahan Sukadana, 50 Tahun)
Goesti Mesir (Penembangan Simpang, 43 Tahun)
Syarif Saleh (Penembahan Kubu, 63 Tahun)
Gusti A Hamid (Panembahan Ngabang)
Ade Moehammad Arief (Panembahan Sanggau)
Goesti Moehammad Kelip (Penembahan Sekadau, 41 Tahun)
Moehammad Taoefik (Penembahan Mempawah, 63 ahun)
Goesti Djafar
Ng Nyiap Soen (40 tahun)
Lumban Pea (43 tahun)
Panagian Harahap
Kei Liang Kie
Ng Nyiap kan
Noto Soedjono
FJ Loway paath
CE Oktavianoes Loecas
Abdoel Samad
dr.Soenaryo Martowardoyo
Moehammad Yatim
Raden Mas Soediyono
Nasaroeddin
Ong Tjoe Kie
Oeray Alioeddin
Thji Boen Khe (wartawan)
Nasroen St Pangeran
E Londok Kawengian
WFM Tewoe
Wagimin bin Wonsosemito
Ng Loeng Khoi
Theng Swa Teng
Sawon Wongso Atmodjo
Soedarmadi
Tamboenan
AFP Lantang
Raden Nalaprana
Tjoeng Kiung Liung

Baca  Gerhana Matahari Secara Ilmu Astronomi Islam (Ilmu Falak)

 

Diliput dari berbagai sumber dan Wikipedia

Tinggalkan Balasan