400 Penambang Emas Cagar Alam Mandor di Tangkap - Harian Kalbar

400 Penambang Emas Cagar Alam Mandor di Tangkap

Harian Kalbar | Terdapat 400 pekerja penambang emas ilegal di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, di amankan oleh petugas gabungan yang terdiri dari Tim Gakkun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Pekerja ilegal tersebut di tangan oleh tim gabungan karena mengeruk emas secara ilegal yang berada di wilayah cagar alam Mandor yang mencapai 700 hektare.

Operasi gabungan ini di lakukan semenjak tanggal 27 Agustus hingga 2 September 2020. Operasi gabungan ini dilakukan untuk menghentikan aktivitas penambangan emas yang terdapat di wilayah cagar budaya.

Baca  Rusia Bakal Serang AS Jika Nekat Perangi China

“Operasi rahasia ini semenjak 27 Agustus sampai 2 September 2020 untuk menghentikan aktivitas penambang emas di sana. ”  ungkap Sustyo Iriyono, Direktur Pencegahan Hutan KLHK, Rabu (02/09/2020).

“Ini merupakan kawasan cagar budaya alam dan memiliki fungsi khusus sebagai perlindungan dan penyeimbang ekologis, tentu banyak tumbuhan dan satwa eksotis,” terangnya

Para pelaku saat ini sedang di periksa Tim KLHK, selain menangkap penambang ilegal, operasi gabungan ini juga mengamankan 145 unit mesin Dompeng (mesin Robin).

Baca  Kasus Baru, 6 Orang Positif Corona di Kalbar

Terkait operasi ini, Sustyo Iriyono menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan tindak pidana secara berlapis terhadap aktor Intelektual dibalik penambangan ilegal tersebut.

“Kami akan menjerat aktor Intelektual dengan pidana berlapis serta mengembangkannya kepada pelaku lain yang terlibat. Kejahatan lingkungan merupakan kejahatan luar biasa.” Ungkapnya.

Menurutnya, Cagar Alam Mandor harus bersih dari segala aktivitas penambangan ilegal. Para pelaku yang terlibat untuk bertanggung jawab dan memperbaiki kerusakan selama ini akibat penambangan tersebut. Seluruh ekosistem rusak akibat penambangan ilegal.

Baca  Elpiji Langka, Bang Midji Minta Walkot-Bupati Tutup Distributor Nakal

“Pemulihan ini akan melibatkan masyarakat setempat.” Terang Sustyo Iriyono

Tinggalkan Balasan